Solo- Acara bincang-bincang sastra telah sukses digelar oleh forum penulis muda Majlis Tafsir Al-Qur’an (FPM MTA) pada, Sabtu (22/11/2014) sore. Kegiatan yang bertempat di gedung Pengajian MTA pusat ini mengambil tema tentang “Bagaimana Sih Caranya Nulis Buku? Kiat dan Motivasi Penulis Tangguh”. Tampil sebagai pembicara pada acara bincang-bincang sastra kali ini adalah Dr. Yoyok Mugiyatno, dosen Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret solo dan penulis novel “Dari Kota Solo Hingga Brattleborro.”
Ketua panitia
bincang-bincang sastra, Abdul Wahid, pada sambutannya mengatakan, acara ini
diselenggarakan untuk membuat sebuah forum atau komunitas penulis muda Islam di
bawah naungan yayasan MTA Solo. Forum ini bertujuan untuk mengembangkan dakwah
Islam melalui media menulis. Selain itu, ia juga berharap agar nantinya forum
ini dapat melahirkan penulis-penulis Islam yang handal seperti, Ahmad Fuadi,
Ahmad Thohari, dan Asma Nadia.
“Semoga forum ini bisa
bermanfaat bagi perkembangan dakwah Islam yang disampaikan oleh MTA,” harapnya.
Sementara itu, ketua
bidang pendidikan pemuda MTA Pusat, Erwan Ferman, mengatakan, ia sangat
mengapresiasi kegiatan bincang-bincang sastra yang dilaksanakan oleh forum
penulis muda MTA. Ia berharap, semangat yang dimiliki oleh anggota forum ini
tidak mudah luntur. Agar kedepannya forum ini bisa melahirkan penulis atau
sastrawan yang handal.
“Semangat buat
rekan-rekan semua,” tutur Ferman.
Dr. Yoyok, dalam
pemaparannya menyampaikan, sastra merupakan sebuah karya seni yang indah dan
memberi kenikmatan bagi pembacanya. Selain memberi kenikmatan, isi karya sastra
juga memberi manfaat berupa pertentangan baik dan buruk.
“Karena keindahan dan
kemanfaatannya itulah semua kitab suci ditulis dalam bentuk puisi,” ungkapnya.
Selain memberi
keindahan, karya sastra menurut Dr. Yoyok dapat menjadi media dakwah yang
efektif. Seorang muslim yang taat tentu akan menulis karya sastra sesuai
keimanannya. Apalagi jika jiwanya terisi oleh semangat untuk memnyampaikan
kebenaran agama. Maka, karya sastra yang ditulisnya pasti menjadi media dakwah.
“Karya sastranya
otomatis merupakan dakwah,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan,
menjadi penulis haruslah rajin membaca buku dan menjadikan membaca sebagai
aktivitas wajib. Karena dengan membaca kita akan memperoleh pengalaman orang
lain dan pengalaman pembaca. Selain itu, Dr. Yoyok juga menambahkan, menulis
itu bukanlah bakat yang muncul tiba-tiba. Melainkan bakat yang timbul dari
semangat tidak gampang menyerah saat membaca dan menulis.
“Tidak ada penulis tanpa
membaca,” pungkasnya.

(Abid)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar