Minggu, 23 November 2014

Grand Opening Forum Penulis Muda MTA


Solo- Acara bincang-bincang sastra telah sukses digelar oleh forum penulis muda Majlis Tafsir Al-Qur’an (FPM MTA) pada, Sabtu (22/11/2014) sore. Kegiatan yang bertempat di gedung Pengajian MTA pusat ini mengambil tema tentang “Bagaimana Sih Caranya Nulis Buku? Kiat dan Motivasi Penulis Tangguh”. Tampil sebagai pembicara pada acara bincang-bincang sastra kali ini adalah  Dr. Yoyok Mugiyatno, dosen Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret solo dan penulis novel “Dari Kota Solo Hingga Brattleborro.”

Ketua panitia bincang-bincang sastra, Abdul Wahid, pada sambutannya mengatakan, acara ini diselenggarakan untuk membuat sebuah forum atau komunitas penulis muda Islam di bawah naungan yayasan MTA Solo. Forum ini bertujuan untuk mengembangkan dakwah Islam melalui media menulis. Selain itu, ia juga berharap agar nantinya forum ini dapat melahirkan penulis-penulis Islam yang handal seperti, Ahmad Fuadi, Ahmad Thohari, dan Asma Nadia.
“Semoga forum ini bisa bermanfaat bagi perkembangan dakwah Islam yang disampaikan oleh MTA,” harapnya.

Sementara itu, ketua bidang pendidikan pemuda MTA Pusat, Erwan Ferman, mengatakan, ia sangat mengapresiasi kegiatan bincang-bincang sastra yang dilaksanakan oleh forum penulis muda MTA. Ia berharap, semangat yang dimiliki oleh anggota forum ini tidak mudah luntur. Agar kedepannya forum ini bisa melahirkan penulis atau sastrawan yang handal.
“Semangat buat rekan-rekan semua,” tutur Ferman.
Dr. Yoyok, dalam pemaparannya menyampaikan, sastra merupakan sebuah karya seni yang indah dan memberi kenikmatan bagi pembacanya. Selain memberi kenikmatan, isi karya sastra juga memberi manfaat berupa pertentangan baik dan buruk.
“Karena keindahan dan kemanfaatannya itulah semua kitab suci ditulis dalam bentuk puisi,” ungkapnya.
Selain memberi keindahan, karya sastra menurut Dr. Yoyok dapat menjadi media dakwah yang efektif. Seorang muslim yang taat tentu akan menulis karya sastra sesuai keimanannya. Apalagi jika jiwanya terisi oleh semangat untuk memnyampaikan kebenaran agama. Maka, karya sastra yang ditulisnya pasti menjadi media dakwah.
“Karya sastranya otomatis merupakan dakwah,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan, menjadi penulis haruslah rajin membaca buku dan menjadikan membaca sebagai aktivitas wajib. Karena dengan membaca kita akan memperoleh pengalaman orang lain dan pengalaman pembaca. Selain itu, Dr. Yoyok juga menambahkan, menulis itu bukanlah bakat yang muncul tiba-tiba. Melainkan bakat yang timbul dari semangat tidak gampang menyerah saat membaca dan menulis.
“Tidak ada penulis tanpa membaca,” pungkasnya.
Pada kesempatan yang sama, juga dilaksanakan penyerahan hadiah lomba menulis esai dan cerpen pemuda MTA 2014. Lolos sebagai juara lomba menulis cerpen adalah Eka Mega Cynthia (juara satu), Reni Septiani (juara dua), dan Nur Wahid Hasan (juara tiga). Kemudian disusul juara lomba menulis esai, Abdul Aziz (juara satu), Dini Arfiani, (juara dua), dan Umu Nasiba (juara tiga). Selain dipilih enam orang peserta sebagai juara, juga dipilih 23 naskah terbaik untuk dibukukan sebagai antologi cerpen dan 18 naskah terbaik untuk dibukukan sebagai antologi esai.
(Abid)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar