Hai kawan! Bagaimana kabarmu hari ini? Sehatkan?
Ini admin punya tulisan menarik lho tentang apa dan siapa yang dinamakan dengan
Majas. Mau tau? Baca tulisan ini sampai selesai ya! ^_^
Tampilkan postingan dengan label Belajar Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Jumat, 30 Januari 2015
Kamis, 03 April 2014
Daftar Bahasa Daerah di Indonesia
Kali ini akan kami sajikan 150 bahasa daerah di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dapat kami himpun dari berbagai sumber. Berikut daftarnya;
- Bahasa Aceh Digunakan di Wilayah Sumatera
- Bahasa Alas Digunakan di Wilayah Sumatera
- Bahasa Alor Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
- Bahasa Ambelan Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
- Bahasa Angkola Digunakan di Wilayah Sumatera
Rabu, 19 Maret 2014
Cara Penulisan Nama Geografi (Nama Kota/Wilayah di Indonesia) yang Benar
Nama geografi, khususnya nama kota/wilayah di Indonesia, ada yang ditulis dalam dua bentuk: ada yang dipisah dan ada yang dirangkai. Untuk keseragaman penulisan nama geografi itu, pusat bahasa bekerja sama dengan Bakosurtanal, telah menetapkan pembakuannya. Pada prinsipnya nama geografi ditulis dalam satu kata atau serangkai, kecuali (1) yang terdiri dari tiga unsur atau lebih dan (2) yang berupa arah mata angin. Dengan demikian, nama wilayah geografi yang hanya terdiri atas dua unsur ditulis serangkai.
Jumat, 28 Februari 2014
Keputusan Kongres Bahasa Indonesia Kedelapan - Sembilan
Jakarta, 14—17 Oktober 2003
Kongres Bahasa Indonesia (KBI)
Kedelapan diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 14–17 Oktober 2003 dan
dihadiri oleh lebih dari 1.200 peserta yang mewakili para peneliti bahasa dan
sastra, guru bahasa dan sastra, dosen, pakar bidang ilmu, tokoh agama, tokoh
adat, tokoh masyarakat, politisi, ahli hukum, pekerja pers, dan mahasiswa baik
yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri, yakni Australia, Belanda,
Brunei Darussalam, Bulgaria, Cina, Italia, Jepang, Malaysia, Prancis,
Rusia, dan Suriname. Setelah
mendengar dan memperhatikan
(1)
Sambutan Wakil Presiden Republik Indonesia,
(2)
Sambutan Menteri Pendidikan Nasional,
(3)
Laporan Kepala Pusat Bahasa, serta membahas 12 makalah sidang pleno, 49 makalah
sidang kelompok, dan 5 topik diskusi panel, KBI VIII menetapkan putusan sebagai
berikut.
Keputusan Kongres Bahasa Indonesia Ketujuh
Jakarta, 26─30 Oktober 1998
1. Bagian Umum
Bahasa Indonesia sudah berkedudukan sebagai
bahasa persatuan selama 70 tahun, sejak diikrarkannya Sumpah Pemuda pada
tanggal 28 Oktober 1928. Selama kurun waktu itu (1928─1998), bahasa
Indonesia mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Di samping sebagai
bahasa persatuan, bahasa Indonesia berkedudukan juga sebagai bahasa negara
sejak Proklamasi Kemerdekaan pada tahun 1945. Sebagai bahasa negara, bahasa
Indonesia berfungsi sebagai sarana komunikasi resmi, sarana pendukung
kebudayaan nasional, serta sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Untuk menghadapi tuntutan dan tantangan
perkembangan kehidupan sosial dan budaya, perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, kehidupan berbangsa dalam era globalisasi, dan teknologi informasi
masa kini serta masa yang akan datang dalam milenium ketiga, mutu bahasa
Indonesia perlu ditingkatkan dan kemampuan daya ungkapnya perlu dikembangkan.
Untuk itu, buku tata bahasa, kamus, serta berbagai pedoman penggunaan bahasa
perlu dikembangkan lebih lanjut untuk meningkatkan pemberdayaan manusia
Indonesia. Di samping itu, sesuai dengan tuntutan pembangunan bangsa, penutur
bahasa Indonesia, terutama pejabat dan tokoh masyarakat harus memiliki
kemampuan dan perilaku berbahasa yang baik sehingga bahasa Indonesia yang
digunakannya dapat dijadikan anutan oleh masyarakat umum.
Keputusan Kongres Bahasa Indonesia Keenam
Jakarta, 28 Oktober─2 November 1993
Kongres Bahasa Indonesia Keenam,
yang diselenggarakan di Hotel Indonesia, Jakarta, dari tanggal 28 Oktober
sampai dengan tanggal 2 November 1993 dan diikuti oleh 770 peserta dari seluruh
Indonesia dan 52 peserta dari luar negeri (Amerika Serikat, Australia, Belanda,
Brunei Darussalam, Hongkong, India, Italia, Jepang, Jerman, Korea Selatan,
Malaysia, Republik Rakyat Cina, Rusia, dan Singapura), membahas pokok-pokok
masalah sebagai tersebut di bawah ini.
a. Peran
Bahasa dan Sastra dalam Pembangunan Bangsa
(1) Bahasa
Indonesia dan Pembangunan Nasional
(2) Bahasa
Indonesia dalam Penyelenggaraan Negara
(3) Bahasa
Indonesia dalam Penyelenggaraan Pendidikan dan Kebudayaan
(4) Bahasa
Indonesia dalam Kegiatan Keagamaan
(5) Bahasa
Indonesia dan Generasi Muda
(6) Bahasa
Indonesia dan Peran Wanita
(7) Bahasa
Indonesia dan Ketahanan Nasional
(8) Sastra
dalam Kehidupan Masyarakat
(9) Bahasa
Indonesia Menjelang Tahun 2000
(10) Bahasa
Indonesia dan Pengembangan Sumber Daya Manusia
(11) Bahasa
dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Modern
Keputusan Kongres Bahasa Indonesia Kelima
Jakarta, 28 Oktober─3 November 1988
Kongres Bahasa Indonesia Kelima
yang pembukaannya diadakan di Istana Negara, Jakarta, pada hari Jumat tanggal
28 Oktober 1988 dan sidang-sidangnya yang berlangsung hingga hari Kamis tanggal
3 November 1988 di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, dengan memperhatikan pidato
peresmian pembukaan oleh Presiden Republik Indonesia, Soeharto, pada tanggal 28
Oktober 1988, pidato pengarahan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr.
Fuad Hassan, pada tanggal 29 Oktober 1988, dan setelah memperhatikan laporan
Kepala Pusat pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Anton M. Moeliono, serta
mendengarkan dan membahas secara saksama makalah yang disajikan, baik dalam
sidang lengkap maupun dalam sidang kelompok, yang berkaitan dengan:
a. garis
haluan:
(1) perencanaan
bahasa (bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing);
(2) pengajaran;
(3) bahasa
Indonesia di luar jalur formal;
(4) sarana
penunjang;
(5) kerja
sama kebahasaan dalam dan luar negeri;
(6) pembinaan
sumber daya manusia dalam pengembangan bahasa Indonesia;
(7) penerjemahan;
Keputusan Kongres Bahasa Indonesia Keempat
Jakarta,
21─26 November 1983
Kongres Bahasa Indonesia Keempat
berlangsung dari hari Senin tanggal 21 November 1983 sampai dengan hari Sabtu
tanggal 26 November 1983 di hotel Kartika Chandra, Jakarta, dan diikuti oleh
tokoh-tokoh lembaga pemerintah, departemen dan nondepartemen, organisasi
profesi, guru, mahasiswa, para ilmuwan yang mewakili pelbagai bidang ilmu dan
teknologi, serta peminat lain dari dalam dan luar negeri. Dengan memperhatikan
pidato pengarahan dalam peresmian pembukaan Kongres Bahasa Indonesia Keempat
oleh Menteri Nugroho Notosusanto, pada tanggal 21 November 1983, serta setelah
mendengarkan makalah-makalah yang disajikan dan dibahas secara seksama baik di
dalam sidang-sidang lengkap maupun di dalam sidangsidang kelompok, Kongres
Bahasa Indonesia Keempat mengambil keputusan yang berupa kesimpulan dan usul
tindak lanjut dalam hubungan dengan masalah-masalah dalam bidang bahasa,
pengajaran bahasa, dan pembinaan bahasa dalam kaitannya dengan kedudukan dan
fungsi bahasa Indonesia sebagai sarana pembangunan nasional, yaitu:
a. sarana
komunikasi pemerintahan dan kemasyarakatan;
b. sarana
pengembangan kebudayaan;
c. sarana
pendidikan dan pengajaran, termasuk wajib belajar; serta
d. sarana
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Keputusan Kongres Bahasa Indonesia Ketiga
Jakarta,
28 Oktober─3
November 1978
Kongres Bahasa
Indonesia Ketiga, yang berlangsung dari Sabtu
tanggal 28 Oktober sampai dengan hari Jumat tanggal 3 November 1978 di
Hotel Indonesia Sheraton, Jakarta, dengan memperhatikan Pidato Peresmian
Pembukaan Kongres Bahasa Indonesia Ketiga oleh Presiden Republik Indonesia,
Suharto, pada tanggal 28 Oktober 1978 dan pidato pengarahan Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan, Dr. Daoed Joesoef, pada tanggal 30 Oktober 1978, serta setelah
mendengarkan kertaskertas kerja yang disajikan dan dibahas secara mendalam,
baik dalam sidang-sidang lengkap maupun di dalam sidang-sidang kelompok,
mengambil keputusan berupa kesimpulan dan usul tindak lanjut dalam hubungan
dengan masalah pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia dalam kaitannya
dengan:
a. kebijaksanaan
kebudayaan, keagamaan, sosial, politik, dan ketahanan nasional;
b. bidang
pendidikan;
c. bidang
komunikasi;
d. bidang
kesenian;
e. bidang
linguistik;
f. bidang
ilmu pengetahuan dan teknologi. Keputusan yang diambil adalah sebagai berikut.
Keputusan Kongres Bahasa Indonesia Kedua
Medan, 28 Oktober─2 November 1954
Dalam Kongres
Bahasa Indonesia Pertama sudah diputuskan bahwa diadakan Kongres Bahasa
Indonesia Kedua, tetapi baru setelah kemerdekaan gagasan itu dilaksanakan,
yaitu di Medan, bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda. Kota Medan dipilih
sebagai tempat Kongres karena menurut Mr. Muh. Yamin, Menteri PPK pada waktu
itu, di kota itulah bahasa Indonesia dipakai dan terpelihara, baik dalam
kalangan rumah tangga ataupun dalam masyarakat. Berlainan dengan Kongres Bahasa
Indonesia Pertama yang diselenggarakan atas prakarsa pribadi-pribadi, Kongres
Bahasa Indonesia Kedua ini diselenggarakan oleh Pemerintah, yaitu Jawatan
Kebudayaan Kementerian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan. Untuk melaksanakan
Kongres Bahasa Indonesia Kedua ini disusun Panitia Penyelenggara sebagai
berikut.
Ketua
: Sudarsana
Wakil Ketua : Dr. Slametmuljana
Panitera I
|
: Mangatas
Nasution
|
Panitera II
|
: Drs.
W.J.B.F. Tooy
|
Panitera III
|
: Nur St.
Iskandar
|
Anggota
|
: Pudjowijatno
|
Anggota
|
: Amir Hamzah
Nasution
|
Anggota
|
: La Side |
Keputusan Kongres Bahasa Indonesia Pertama
Solo, 25--27 Juni 1938
1. Sesudah
mendengarkan dan memperkatakan praeadvies tuan Mr. Amir Sjarifoeddin tentang
"Menyesuaikan kata dan paham asing ke dalam bahasa Indonesia", maka
Kongres ternyata pada umumnya setuju mengambil kata-kata asing untuk ilmu
pengetahuan. Untuk ilmu pengetahuan yang sekarang, Kongres setuju kalau
kata-kata itu diambil dari perbendaharaan umum. Pekerjaan itu hendaklah
dijalankan dengan hati-hati karena itu perkara itu patutlah diserahkan kepada
satu badan.
2. Sesudah
mendengarkan dan bertukar pikiran tentang praeadvies tuan St. Takdir
Alisjahbana hal "Pembaharuan bahasa dan usaha mengaturnya", maka
sepanjang pendapatan Kongres, sudah ada pembaruan bahasa yang timbul karena ada
cara berpikir yang baru, sebab itu merasa perlu mengatur pembaharuan itu.
Langganan:
Postingan (Atom)

